Kamis, 19 Maret 2009

pemimpin

Nasihat untuk Pemimpin
Oleh abdul malik

Kita telah memahami bersama bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Berbicara masalah kekuasaan / kepemimpinan ada beberapa hal yang perlu kita ketahui, diantaranya adalah:

Pertama yang harus kita ketahui adalah kedudukan dan pentingnya kekuasaan. Sesungguhnya kekuasaan adalah sebagian nikmat dari Allah Swt. Siapa saja yang menjalankan kekuasaan dengan benar, maka ia akan memperoleh kebahagiaan yang tidak ada bandingnya, dan tidak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan itu. Siapa saja yang lalai dan tidak menegakkan kekuasaan dengan benar, maka ia akan mendapat siksa yang tidak ada siksaan lebih pedih setelahnya kecuali siksa karena kufur kepada Allah Swt. Keterangan yang menunjukkan betapa agung kedudukan dan pentingnya kekuasaan, adalah apa yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. Beliau bersabda, “ Keadilan sultan satu hari lebih dicintai Allah daripada beribadah selama tujuh puluh tahun”.

Pada sabda yang lain Rasulullah saw berkata,” Pada hari kiamat nanti, tidak ada perlindungan selain perlindungan Allah. Perlindungan tersebut tidak akan diberikan kecuali kepada tujuh golongan, yaitu sultan yang adil terhadap rakyatnya, pemuda yang tumbuh dewasa dalam keadaan beribadah kepada Allah, laki-laki yang sedang berada di pasar tetapi hatinya tetap di Masjid, dua orang manusia yang saling mencintai karena Allah, laki-laki yang berzikir kepada Allah dalam khalwatnya hingga air matanya bercucuran dari kelopak matanya, laki-laki yang digoda oleh wanita bangsawan cantik dan tapi ia berkata: Aku takut kepada Allah, dan laki-laki yang bersedekah secara diam-diam dengan tangan kanannya sehingga tangan kirinya tidak mengatahui.”

Sabda beliau yang lain,” Orang yang paling dicintai Allah dan paling dekat dengan Nya adalah Sultan yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh dengan-Nya adalah sultan yang jahat”.

Jika demikian keadaannya, maka tidak ada nikmat yang lebih sempurna dari nikmat seorang hamba yang diberi jabatan kekuasaan. Satu saat dari umurnya sama dengan seluruh umur orang lain.
Siapa saja yang tidak mengetahui kedudukan nikmat ini dan menggunakannya untuk berbuat zalim serta mengumbar hawa nafsu, maka Allah akan menjadikan baginya musuh yang banyak.
Keterangan yang menunjukkan pentingnya kekuasaan adalah apa yang diriwayatkan Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. Pada suatu hari datang seperti biasa untuk mengelilingi pintu Ka’bah. Pada saat itu di dalamnya terdapat beberapa orang Quraisy. Rasulullah bersabda : “ Wahai pemimpin Quraisy, perlakukan rakyat dan pengikut kalian dengan tiga hal,yaitu jika meminta kasih sayang dari kalian maka kasihanilah mereka, jika kalian membuat keputusan maka buatlah keputusan yang adil dalam urusan mereka, dan berbutlah seperti apa yang kalian katakana. Siapa saja yang tidak melakukan tiga hal tersebut, maka baginya laknat Allah dan malaikat-Nya. Allah tidak akan menerima amalnya baik yang wajib maupun yang sunnah.”

Sabda Nabi yang lain; “ Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah, yaitu sultan yang jahat dan pendusta, kakek-kakek pezina, dan orang miskoin yang sombong”
Maksudnya sombong karena rakus. Suatu hari Rasulullah berkata kepad para sahabat: “ Akan datang suatu hari, yang pada hari itu kalian akan menguasi timur dan barat dalam genggaman kalian. Semua pejabat di daerah akan masuk neraka kecuali orang yang bertakwa kepada Allah, dan menunaikan amanat.” Dan pada hadits yang lain Rasulullah bersabda: “ Seorang hamba yang dianugrahi jabatan oleh Allah untuk mengurusi rakyat, kemudian di berbuat curang kepada mereka, tidak menasihati dan tidak mengasihi mereka maka tidaklah bagi dia kecuali Allah haramkan surga untuknya.”

Dan juga dalam sabda yang lain : “ Siapa saja yang menangani urusan-urusan kaum muslimin kemudian tidak memeliharanya sebagaimana ia memelihara keluarganya, maka sungguh dia telah menyiapkan tempat duduknya di neraka.”

Rasulullah bersabda: “ Dua orang dari umatku yang diharamkan syafaat-ku bagi keduanya (tidak akan mendapatkan syafaat Rasulullah) adalah, penguasa yang zalim, dan ahli bi’ah yang mengada-ada dalam agama serta melampau haq-haq Allah.”

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab pada suatu hari melayat jenazah. Datanglah seorang laki-laki, kemudian dia melaksanakan shalat jenazah. Ketika mayat itu selesai dikubur, orang tadi meletakan tangannya diatas kubur sambil berkata,” Ya Allah jika Engkau mengadzabnya maka itu adalah hak-Mu karena dia telah melakukan maksiat. Jika engkau memberikan rahmat kepadanya, maka sesungguhnya ia sangat membutuhkan rahmat-Mu. Beruntunglah engkau mayit jika engkau bukan orang pemimpin, intelektual, sekretaris penguasa, tokoh masyarakat, atau pengumpul pajak.”
Ketika selesai berkata demikian, dia menghilang dari pandangan manusia. Umar memerintahkan untuk mencari orang tersebut tetapi tidak ditemukan. Kemudian Umar berkata, “ Dia adalah Khidhir as.”
Rasulullah Bersabda: “Celakalah para pemimpin, celakahlah para intelektual, celakahlah para tokoh. Sesungguhnya mereka adalah tiang-tiang yang bergelantungan di langit pada hari kiamat karena perbuatan mereka. Mereka akan diseret ke neraka. Mereka mengangankan andai dulu tidak melakukan pekerjaan itu.”

Kedua, senantiasa merindukan petuah para ulama dan gemar mendengarkan nasihat mereka.

Ketiga, janganlah merasa puas dengan keadaan kita yang tidak pernah melakukan kezaliman. Lebih dari itu, kita mesti mendidik para pembantu, sahabat dan pegawai. Janganlah kita tinggal diam melihat kezhaliman mereka, karena susungguhnya kita akan ditanya perbuatan zalim mereka sebagimana akan ditanyai tentang perbuatan zalim kita.

Sebagaimana dicontohkan oleh Umar Bin Khaththab ketika menulis surat kepada bawahannya, yaitu Abu Musa al-Asya’ariy sebagai berikut : “ Sesungguhnya wakil yang paling berbahagia adalah wakil (kepala pemerintahan setingkat dibawah khalifah,Penrj) yang rakyatnya merasa bahagia. Sesungguhnya wakil yang paling celaka adalah wakil yang rakyatnya dalam keadaan sengsara. Oleh karena itu, mudahkanlah karena sesungguhnya bawahanmu akan mengikuti perilakumu. Perumpamaanmu adalah seperti binatang ternak melihat rumput hijau, kemudian memakannya dalam jumlah banyak hingga gemuk. Ternyata kegemukannya membawa kemalangan kerena hal itu membuat dia disembelih dan dimakan manusia

Keempat, kebanyakan pemimpin memiliki sifat sombong. Salah satu sifat kesombongannya adalah, bila marah ia akan menjatuhkan hukuman. Kemarahan adalah perkara yang membinasakan akal, musuh dan penyakit akal. Jika amarah sudah mendominasi kita, maka kita harus condong kepada sifat pemaaf dan kembali kepada sifat mulia. Jika hal itu sudah menjadi kebiasaan kita, maka kita sudah meneladani para nabi dan aulia. Jika engkau menjadikan kemarahan sebagai kebiasaan maka kita serupa dengan binatang buas.
Sebagimana dikatakan kepada Rasulullah tentang tentang seorang laki-laki, bahwa dia adalah laki-laki yang kuat dan pemberani. Kemudian Rasulullah saw bertanya,” Bagaimana bisa seperti itu?”
Orang-orang menjawab. “ Dia lebih kuat dari siapapun, dan tidak ada seorang pun yang ia tantang bergulat kecuali dia dapat mengalahkan musuhnya itu.”
Maka Rasulullah bersabda : “ Orang kuat yang pemberani adalah orang yang dapat mengalahkan dirinya sendiri, bukan yang dapat mengalahkan orang lain.”
Dan dalam Sabdanya yang lain: “ Tiga hal yang apabila seseorang memilikinya, maka sempurnalah imannya: mampu menahan amarah, bertindak adil baik dalam keadaan ridha maupun dalam keadaan marah, dan pemaaf meskipun dia mampu membalasnya.”

Berkata Umar bin Khaththab, “ Janganlah engkau percaya pada ahklak (prilaku) seseorang sampai engkau mengujinya ketika ia marah.”

Kelima, sesungguhnya pada setiap kejadian yang menimpa diri kita, kita mesti membayangkan bahwa kita adalah salah seorang rakyat, sementara selain diri kita adalah pemimpin. Dengan itu apa yang tidak kita ridhai bagi diri kita sendiri, tidak pula akan diridhai oleh salah seorang muslim. Jika kita meridhai mereka dalam apa yang tidak kita ridhai untuk diri kita sendiri, berarti kita telah menghianati dan menipu bawahan.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. Pernah memimpin perang badar dan duduk dibawah naungan, lalu malaikat Jibril turun dan berkata kepada beliau untuk menegurnya,” Wahai Muhammad, engkau duduk dibawah naungan, sementara sahabat-sahabatmu berada dibawah sorotan sinar matahari,” Rasulullah bersabda,” Siapa yang ingin selamat dari panas api neraka dan masuk surga, ia mesti (ketika datang padanya kematian) menemukan kesaksiannya dengan lisannya. Setiap yang tidak diridhai bagi dirinya sendiri, maka tidak seorangpun dari kaum muslim meridhainya.” Rasul melanjutkannya, “ Barangsiapa yang dalam hatinya ada harapan kepada selain Allah, maka tidak ada anugrah Allah dalam sesuatupun. Siapa saja yang tidak bersikap welas asih terhadap kaum muslim, ia berarti bukan termasuk golongan mereka.”


Keenam, janganlah kita memandang rendah orang-orang yang memiliki kebutuhan yang menunggu di depan pintu kita. Hati-hatilah terhadap mereka. Manakala salah seorang muslim memiliki kebutuhan terhadap kita, maka janganlah kita malah tidak memperdulikan mereka karena sibuk dengan ibadah-ibadah sunnah. Sebab, memenuhi berbagai kebutuhan kaum muslim adalah lebih utama dibandingkkan ibadah-ibadah sunnah.

Ketujuh, janganlah kita membiasakan diri sibuk mengurusi berbagai keinginan seperti ingin pakaian kebesaran atau ingin makan-makanan yang lezat. Akan tetapi hendaklah kita bersifat Qonaah terhadap seluruh perkara. Sebab, tidak akan ada keadilan tanpa sikap qona’ah.

Kedelapan, sesungguhnya jika kita memang mampu melakukan setiap urusan dengan penuh kasih sayang dan kelambutan, maka janganlah melakukannya dengan kekerasan dan sikap kasar. Rasulullah saw. Pernah berdoa: “ Ya, Allah, perlakukanlah dengan lemah lembut setiap penguasa yang telah memperlakukan rakyatnya dengan lemah lembut, dan perlakukanlah dengan kasar setiap penguasa yang telah berindak kasar terhadap rakyatnya.”

Kesembilan, hendaklah kita berupaya dengan sungguh-sungguh untuk meraih keridhaan rakyat melalui cara-cara yang sesuai dengan hukum syara’. Rasulullah bersabda kepada sahabat-sahabatnya: “ Sebaik-baik umatku adalah orang-orang yang mencintai kalian, dan kalian mencintai mereka. Dan seburuk-buruk umatku adalah orang-orang yang melaknat kalian, dan kalian melaknat mereka.”
Hendaklah seorang penguasa tidak tertipu oleh orang yang datang kepadanya dan memuji-mujinya, dan janganlah beranggapan bahwa rakyat semacam itu ridha kepadanya. Orang yang memuji itu memberikan pujian hanya karena rasa takutnya, akan tetapi, hendaklah kita menunjuk para utusan yang akan menanyai rakyat tentang keadaan diri kita agar dapat mengetahui aib kita, langsung dari lisan masyarakat.

Kesepuluh, janganlah kita mencari keridahan seorang manusia melalui cara-cara yang bertentangan dengan hukum syara’. Siapa saja yang marah karena adanya pelanggaran hukum syara’, maka marahnya tidak akan membawa bahaya. Umar bin Khaththab r.a. berkata: “ Sesungguhnya aku bangun pagi pada saat sebagian besar mahkluk marah kepadaku.menjadi keharusan bagi seseorang yang diambil haknya untuk marah dan tidak ridha pada orang yang merampas haknya. Kebanyakan manusia bodoh karena mereka meninggalkan keridhaan Allah demi mencari keridhaan makhluk.


Uswatun khasanah
Sang pemimpin

Seperti ombak yang datang berlapis-lapis kaum pemberontak dari Mesir telah berkemah di lereng-lereng pegunungan batu sekitar Madinah. Sedianya mereka handak langsung membunuh Utsman, tetapi Muhammad bin Abu Bakar yang disangka betul-betul memimpin mereka berdasarkan tuntunan hati nurani, berusaha mencegahnya dengan segala cara.
“ Kita akan mengalami kegagalan kalau kita tidak bisa bersabar,” Ucap Muhammad dengan suara bergema. Wibawanya selaku putra khlaifah pertama masih mampu mengendalikan suasana. “ Saudara-saudara kita dari Basrah dan Kufah akan segera tiba. Kita harus bergerak dengan kompak bersama mereka. Untuk itu, yang akan berangkat hari ini ke Madinah hanya pimpinan kelompok-kelompok saja. Kita berikan wewenang kepada mereka sebagai delegasi untuk membacakan tuntutan-tuntutan kita. Setuju ?”

Sebagian besar dari para pembangkang itu meneriakkan kata setuju. Sebab sebenarnya mereka terpisah menjadi dua golongan. Yang pertama adalah kaum oposisi. Mereka ini, seperti halnya sejumlah sahabat yang sering bertentangan dengan pendapat Khalifah, semata-mata melakukan perlawanan secara demokratis. Yang dihendaki adalah perbaikan. Bukan kerusakan. Di Madinah sendiri kaum oposan yang di dalamnya termasuk sahabat yang mulia, Ali bin Abi Thalib, senantiasa mengadakan dialog dengan khalifah kadang-kadang dilakukan dalam acara ramah tamah sekalipun iklimnya menanjak panas dan berkobar-kobar. Namun selalu diakhiri dengan berjabat tangan dan saling berpelukan. Tidak sepotongpun kalimat yang lolos dari meja perdebatan, lalu dijadikan isu luar.
Golongan kedua adalah kaum pengacau dibawah pimpinan Abdullah bin Saba. Dasar pembangkangan mereka ditopang oleh kebencian kepada Islam dan umat Islam. Mereka tidak menginginkan sebarang kebaikan. Yang mereka cari adalah kehancuran lawan, dalam hal ini khalifah dan para pendukungnya. Maka perbuatan mereka cendrung kebiadaban dan kekejaman.
Mengahapi gelombang pengunjuk rasa yang kini telah berkumpul di depan rumahnya, Utsman bin Affan tidak bergeming sejengkalpun dari pendirian semula. Bila kekerasan dilawan kekerasan, yang timbul nanti adalah anarki dan pertumpahan darah yang lebih buruk. Ia tetap mengambil jalan damai dan pengampunan. Ia masih juga melipat tangannya di depan dada. Ia tidak mau para pengawalnya mencabut pedang.
“ Aku bukan pembunuh. Orang-orang itu Cuma belum memahami kebijaksanaanku dan cara berpikirku. Aku akan mencoba menyentuh hati mereka dengan budi baik dan kasih sayang. Kalau jalan ini masih gagal juga, biarlah aku berserah diri kepada Allah.” Utsman bi Affan ketika Marwan bin Hakam minta izin untuk menghabisi mereka dengan senjata. Kemudian Utsman bi Affan melaksanakan sikap yang gagah berani. Ia keluar dari rumahnya dengan langkah tergontai-gontai, dan berdiri ditempat ketinggian untuk berbicara langsung dengan para demonstran.
“ Saudara-saudaraku yang setia.tersebar berita bahwa khalifah menyediakan padang rumput guna ternak-ternak sendiri. Demi Allah aku tidak melakukannya. Sebab untaku hanya dua ekor dan kupergunakan untuk naik haji. Padang rumput itu terbuka untuk umum siapapun boleh mengembalakan hewan piaraannya disana. Apakah dua untaku membutuhkan rerumputan seluas itu, sedangkan kalian tahu, sebelum menjadi khalifah, tiada seseorangpun penduduk jazirah Arab ini memiliki unta lebih banyak daripada kepunyaanku?”

Utsman berhenti sejenak dengan napas mengempas-empas. Orang-orang yang tidak puas itu berdiri tegak hampir tidak sampai hati untuk bergerak. Mereka terharu oleh kemunculan Utsman yang tampak begitu tua dan memelas. Muhammad bin Abu Bakar tersedu-sedu diantara rombongan yang dipimpinnya. Sisa angin yang meliuk-liuk melewati lorong dan atap-atap rumah masih juga mengembuskan kecemasan di hati Muhammad bin Abubakar, jangan-jangan kelompok Abdullah bin Saba dapat menyelundup masuk dan memanaskan situasi.
Sebelum Utsman mengawali kembali pidato pertanggungjawabannya, dua rombongan ini dari Basrah dan Kufah mulai berdatangan. Mereka ikut terbawa suasana samun yang membekukan udara Madinah.
“ Aku dituduh mengangkat pejabat dari kaum muda, sementara masih banyak orang tua yang tidak mendapat kedudukan. Benar kulakukan demikian. Tetapi aku tidak bertindak asal-asalan. Sebab sepanjang penilaianku, berdasarkan keteladanan Rasulullah, pengangkatan pejabat tidaklah terpancang kepada batas umur, tua ataupun muda. Abu Musa Alasya’ari adalah orang tua. Dan ia kujadikan gubenur Kufah walaupun pernah kuberihentikan dari jabatan amir Basrah. Jadi apa salahnya aku memberikan kepercayaan kepada kaum muda? Bukankah Rasulullah menetapkan Usamah bin Zaid sebagai panglima ketika usianya belum genap dalapan belas tahun?”
sebagian kecil dari para pengunjuk rasa itu mengangguk-angguk tanda mengerti. Mereka insaf akan kekerdilan diri sendiri. Setelah menghapus keringat yang gemerlapan di keningnya, Utsman meneruskan ucapannya.
“ Aku juga dituduh terlalu mencintai famili. Maaf, saudara-sudara. Siapakah di antara kalian yang dapat memberikan ayat atau hadist bahwa mencintai famili hukumnya haram? Malahan islam mengajarkan, mencintai keluarga adalah kewajiban, selama tidak merugikan orang lain. Aku memberikan hadiah kepada mereka dari kantungku sendiri. Dan tak akan kubiarkan mereka mengambil uang negara kecuali yang merupakan hak mereka. Demi Allah aku sudah senja, sebentar lagi malam gelabku akan tiba, mengerudungiku dalam ketidak tahuan yang sangat panjang. Tidak ada bedanya aku mati sekarang atau besok. Tidak ada bedanya aku mati terbunuh atau ditempat tidur. Yang jelas, hari-hari pengahabisanku sudah semakin dekat ketimbang kalian. Untuk itu, izinkanlah aku berserah diri kepada Allah. Aku tidak takut dikalahkan, dan aku tidak ingin mengalahkan. Aku hanya menhendaki kebaktian yang tulus dan tuntas kepada sang maha penyayang demi kejayaan islam dan umat islam.”
Lantas khalifah mengucapkan salam penutup diiringi gumam takbir di hatinya. Ia membalikkan tubuh pelan-pelan dan berjalan menunduk memasuki rumahnya yang sepi,. Semua orang terpana ditempatnya. Tidak seutas suarapun kedengaran selain dengusan napas lambat-lambat sebagaimana langkah-langkah kaki mereka tatkala meninggalkan tempat itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar